Kamis, 27 Maret 2014

Arti, Sejarah dan Teori Kesehatan Mental

Konsep sehat



Konsep Sehat itu adalah sebuah keadaan normal yang sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai jenis kelamin dan komunitas masyarakat. Itu adalah pengertian sehat yang saya mengerti pada awalnya. Dan setelah sekian lama Sehat Kita Semua tidak memposting makan pada kali kesempatan ini setelah vakum cukup lama akan memberikan hal sedikit tentang beberapa hal yang berhubungan dengan konsep dan pengertian sehat ini.

Pengertian sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Dan beberapa pengertian sehat lainnya yaitu diantaranya :

1.  Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.
( Menurut Pender, 1982 )

2. Sehat / kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
( Menurut UU N0. 23/1992 tentang kesehatan)

3. Sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care Resouces : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual. (Menurut Paune, 1983)



Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Zaman dahulu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah setan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha melalukan perbaikan dalam mengatasi orng-orang yg mengalami gangguan mental.

Kesehatan mental ungkapan ini diciptakan oleh W. Swetster di tahun 1843, dan penuh dengan konten yang sebenarnya melalui "pribadi" pengalaman berkumpul oleh ahli asuransi Beers Amerika. Tujuannya adalah untuk memastikan perawatan yang lebih manusiawi dari sakit mental, cara bagaimana tujuannya ini dilakukan dalam konteks yang lebih luas melampaui domain perawatan kesehatan tidak bisa disebut hanya kejiwaan.
Kesehatan mental mulai berkembang sejak perang dunia ke II .Sejak awal perang dunia ke II kesehatan mental bukan lagi suatu istilah yang asing bagi orang – orang .Dalam bidang kesehatan mental kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban.
Namun seiring jaman yang semakin maju dan perkembangan ilmu pengetahuan Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris, mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya

Ada juga tunjuan mempelajari Kesehatan mental yaitu :
  1. Memahami makna kesehatan mental dan faktor-faktor penyebabnya.
  2. Memahami pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penanganan kesehatan mental.
  3. Memiliki kemampuan dasar dalam usaha peningkatan dan pencegahan kesehatan mental masayarakat.
  4. Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan mengurangi timbulnya gangguan mental masyarakat.



Teori Kepribadian Sehat

  1. Aliran Psikoanalisa

Sigmund Freud
        Menurut Sigmund Freud, seseorang yang berjiwa sehat adalah seseorang yang memiliki ego lebih tinggi dibandingkan id dan superegonya. Kenapa? Karena ego adalah penyeimbang antara keduanya dan egolah yang berada dalam dunia nyata. Jika seseorang memiliki id lebih tinggi yang terjadi adalah orang tersebut berperilaku sesuai dengan apa yang dia inginkan atau apa yang ia senangi. Selain itu orang tersebut akan menjadi orang yang sombong dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan jika seseorang memiliki superego lebih tinggi dari ego maka yang terjadi adalah orang tersebut cenderung melakukan apa yang sesuai dengan orang lain atau sesuai dengn aturan. Orang ini tidak peduli dengan perasaannya sendiri, yang ia pedulikan adalah dapat diterima di lingkungannya. Orang seperti ini cenderung takut untuk membuat keputusan sesuai keinginannya dan bergantung pada orang lain.


  1. Aliran Behavioristik

Kepribadian yang sehat menurut behavioristik adalah memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya, bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman, dan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan

Teori-teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku. Semua bentuk tingkah laku manusia adalah hasil belajar yang bersifat mekanistik lewat proses penguatan. Pendekatan behavioristik terhadap kepribadian memiliki dua asumsi dasar, yaitu:
a.     Perilaku harus dijelaskan dalam pengaruh kausal lingkungan terhadap diri individu.
b.     Pemahaman terhadap manusia harus dibangun berdasarkan riset ilmiah objektif dikontrol dengan seksama dalam eksperimen laboratorium.

Tokoh – tokoh teori Behavioristik

B.F Skinner
JB. Watson
Ivan Pavlov
               

  1. Aliran Humanistik

Abraham Maslow
         Aliran humanistik memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang membedakan menusia dengan binatang, yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan pekembangannya sendiri (self-direction). Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai “self-theorities” karena teori-teori tersebut membahas pengalaman-pengalam

an batin, pribadi, yang berpengaruh terhadap proses pendewasaan diri seseorang, dan pertumbuhan itu diarahkan pada aktualisasi diri.

Sedangkan kepribadian yang sehat menurut teori humanistik adalah perilaku yang mengarah pada aktualisasi diri, seperti ;
a.    Menjalani hidup seperti seorang anak, dengan penyerapan dan konsentrasi sepenuhnya.
b.    Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan pada cara-cara yang aman dan tidak berbahaya.
c.    Lebih memperhatikan perasaan diri dalam mengevaluasi pengalaman ketimbang suara tradisi, otoritas, atau mayoritas.
d.          Jujur ; menghindari kepura-puraan dalam “bersandiwara”.
e.    Siap menjadi orang yang tidak popular bila mempunyai pandangan sebagian besar orang.
f.    Memikul tanggung jawab.
g.    Bekerja keras untuk apa saja yang ingin dilakukan.
h.    Mencoba mengidentifikasi pertahanan diri dan memiliki keberanian untuk menghentikannya.




 
Referensi :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar